by :
Prafira Laili Zahra
NB:
Apabila anda mengutip tulisan dari Blog ini, harap mencantumkan link yang akurat untuk menghindari plagiarisme! Terimakasih.
Idealisme bertolak pada pemikiran
manusia yang abadi (idea) menjadi realitas pada umumnya. Sesuatu yang empiris
merupakan turunan dari ide tersebut. Salah satu tokoh idealisme yaitu Plato,
spekulasi dalam dirinya sendiri membahas mengenai virtue atau keabadian. Ia menggunakan idea sebagai dasar pondasi budaya
maupun pendidikan. Pendidikan terbentuk dari gagasan melalui sebuah proses
idealis yang ada dalam diri anak, sedangkan guru hanya disebut sebagai model
moral dan budaya yang berasal dari idealisme filosofis. Dalam hal ini, guru
adalah terpelajar dan murid mempelajari kebijaksanaan. Cara pandang Plato
terhadap pendidikan sama seperti sistem yang dibawakan oleh gurunya Sokrates
ketika pengajarannya dilakukan melalui jalan dialog, sehingga murid
menstimulasi ide dengan mengajukan pertanyaan. Hubungan erat antara guru dengan murid,
dirancang untuk menghasilkan karakter murid sebagai pengatur kehidupan
pemainnya.
Pendidikan merupakan
misi untuk menumbuhkan pengetahuan dalam diri manusia melalui jalan pikiran dan
kesadaran untuk menghasilkan kebenaran universal. Epistemologi Plato didasarkan
pada ingatan sebagai sebuah kebenaran. Ingatan menghasilkan ide yang kemudian
secara sadar diturunkan dalam kenyataan. Pendidikan ideal digunakan sebagai
kebajikan dan kebenaran warganya. Untuk mengetahui dan menginterpretasikan
pikiran orang lain diperlukan idealisme, maka dari itu terbentuklah sistem
politik dimana penguasa harus memiliki intelektual yang tinggi.
Kaum idealis memberikan
konsep dunia pikiran maupun makrokosmos. Pikiran universal terjadi dari adanya
substansi dan proses berdasarkan individu, pikiran dan entitas yang dihasilkan.
Pemikiran manusia mutlak sebagai pemikiran eksternal mirokosmik. Walaupun
pemikiran manusia terbatas, namun pikiran bersatu dengan ide mutlak.
Keseluruhan pikiran yang keseluruhannya digabungkan mendasar pada logika,
setiap proposisi terkait proposisi yang lebih utuh.
Prinsip edukasi idealis
bertujuan supaya pendidikan dapat merangsang murid untuk mencapai identifikasi
penting mutlak meluas. Proses bertahap melalui kesadaran mental digunakan untuk
mendapatkan pemahaman perspektif yang komprehensif. Belajar merupakan proses
mengingat dengan ide, sehingga masyarakat merangkum ide dalam sistem bagian
tertentu (kurikulum) yang mengandung konsep keterkaitan satu dengan lainnya
melalui simbol. Simbol merujuk pada konsep, pokok bahasan terkumpul menjadi
sintesis yang lebih besar dan mewakili tiap objek tertentu.
Pendidikan idealis
memiliki tujuan dalam proses belajar mengajar membantu siswa menggunakan
potensinya dan intuisi sosial melalui sekolah diharapkan dapat membentuk siswa
menjadi karakter bijaksana. Sekolah sebagai lembaga yang berperan melihat
kemajuan sejarah sebagai evolusi peradaban. Pembelajaran di sekolah bersifat
kumulatif dengan menguraikan kebenaran pengetahuan.
Idealist
Curriculum mempertahankan karakternya sebagai dasar
disiplin ilmu idea dan intelektual, sedangkan sistem konseptual menjelaskan dan
melandasi manifestasi dari yang absolut. Kurikulum idealis menduduki pokok
penting disiplin ilmu yaitu filsafat dan teologi, hubungan terpenting antara
manusia dengan Tuhan. Guru idealis harus memahami berbagai macam metode efektif
untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Misalnya Socratic Dialogue, suatu proses dimana guru bertindak dengan pengajaran ide-ide.
Maksudnya, guru harus menanyakan pertanyaan yang dapat menstimulasi anak
didiknya. Hal terpenting, murid-murid juga harus memahami dengan membaca buku
sebelum memutuskan jawaban sehingga menghindari jawaban sederhana. Seperti pada
perang dunia II, pemimpin Nazi harus dapat menjawab berbagai macam isu
persoalan moral yang luas dengan menggunakan sistem analisis model. Guru
merupakan model konstan karena ia merupakan perwujudan matang dari nilai-nilai
budaya tertinggi.
Pustaka :
·
Gutek Gerald L. 1988. Philosophical And Ideological Perspective On
Education. United States Of America: Loyala University Of Chicago.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar