Minggu, 24 Maret 2019

FILM IRON JAWED ANGELS DITINJAU DARI HERMENEUTIKA DILTHEY

by :
Prafira Laili Zahra


NB: 
Apabila anda mengutip tulisan dari Blog ini, harap mencantumkan link yang akurat untuk menghindari plagiarisme! Terimakasih. 
 


Latar Belakang
Film, merupakan hasil karya seni, ekspresi manusia yang berfungsi sebagai media edukatif, informatif serta persuasif. Iron Jawed Angles, film historis yang menceritakan tentang kisah perjuangan kaum perempuan dengan visi memperjuangkan hak atas emansipasi wanita. Film yang mengusung tema sejarah ini diambil dari kisah nyata kaum perempuan untuk mendapatkan hak politik kesetaraan dengan kaum laki-laki di Amerika Serikat pada tahun 1920. Perempuan tidak diberi hak politik untuk berpartisipasi dalam pemilu pada saat itu. Alice Stokes Paul sebagai pimpinan gerakan suffragist tak hentinya melakukan aksi ekstrim pada saat itu, bahkan aksinya tak usai ketika di Amerika sedang terjadi Perang Dunia I. Perjalanan dengan liku bergelombang, inilah masa-masa kerasnya perjuangan Alice, ia harus rela ditangkap, diasingkan, dipenjara, dan di siksa oleh suruhan pemerintah.
Dilthey, filsuf kebangsaan Jerman membuat kerangka teori pikirnya mengenai sejarawan, humaniora, dan hermeneutika. Ilmu hermeneutika digunakannya untuk mengungkapkan filsafat hidup, dasar epistemologis dan logis ilmu sejarah. Menurutnya, manusia tidak dapat meneliti kehidupan batin orang lain secara langsung melainkan mereka harus membangun akses dengan manifestation of life, hal ini yang menyatukan film Iron Jawed Angels dengan analisa Dilthey bahwasannya sebagai pejuang hak perpempuan, Alice memahami keterpurukan kaum perempuan pada saat haknya didiskriminasi, apa dialami sejak remaja hingga ia sadar kesalahan pada penguasa dengan melihat fenomenologi masyarakat secara langsung membuat progress sebagai usaha untuk mengubah masa depan. Hermeneutika dinilai sebagai pemahaman interpretatif sebagai proses pokok dalam memahami human science dengan perpaduan simbol, ekspresi yang mencerminkan hidup seseorang..
Berangkat dari historisitas tersebut, penulis menentukan kajian mengenai “Film Iron Jawed Angels Ditinjau Dari Hermeneutika Dilthey” sebagai judul makalah ini.

Rumusan Masalah
            1. Bagaimana analisis hermeneutika Dilthey terhadap film Iron Jawed Angels ?

Sinopsis Iron Jawed Agels
Iron Jawed Angels, film berkisah kaum perempuan Amerika Serikat dalam memperjuangkan “hak emansipasi” di ranah politik.  Dimulai dari perjalanan hidup Alice Stokes Paul sebagai pimpinan gerakan hak pilih (suffragist) Amerika, didukung oleh rekannya bernama Lucy. Tujuan membentuk gerakan ini, Alice berkeinginan untuk mendapatkan dukungan melalui asosiasi sejumlah lembaga dalam mengamandemen undang-undang mengenai politik, ketidak-adilan, pelarangan hak pilih perempuan di hampir seluruh  negara bagian Amerika Serikat. Terlebih, keadaan lingkungannyalah yang membuat ia berani menyuarakan haknya.
Alice mulai memperjuangkan nasib kaum wanita dengan mengajak Anna Howard Showel ebagai ketua asosiasi NAWSA (National American Woman Suffarge Assosiation) sekaligus mengambil alih komite NAWSA di Washington DC untuk menyuarakan aspirasi politiknya. Jalan pertama yang diambil dengan mengadakan parade mempromosikan hak pilih perempuan melalui gabungan pekerja industri, pekerja sosial, pengacara, buruh. Dengan terjun langsung ke lapangan, ia mengajak masyarakat untuk mendukung gerakannya dalam memperjuangkan hak asasi perempuan. Awalnya, para pekerja tidak menghirukan perkataan Alice, namun karena kepiawaiannya berkomunikasi, mengambil hati masyarakat dan mengungkapkan gagasannya secara logis, masyarakat akhirnya ikut dalam menyerukan suaranya. Namun usaha ini gagal ketika terjadinya kerusuhan di depan gedung presiden yang menyebabkan berjatuhnya korban jiwa.
Pada saat yang bersamaan, terjadi Perang Dunia I, namun Alice dan masyarakat. Keadaan perang yang sedang terjadi membuat masyarakat yang ikut dalam demo serta Alice ditangkap paksa dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum. Padahal ini hanya rekayasa politik agar kaum laki-laki tetap berkuasa memegang andil pemerintahan. Di dalam penjara, Alice melakukan pemberontakan dengan aksi mogok makan, yang kemudian diikuti pula oleh masyarakat lainnya. Namun bukannya di kasihani, justru di dalam penjara mereka mendapatkan perlakuan yang kasar dan tidak manusiawi. Ia dipaksa menelan makanan dengan memasukkan selang ke dalam mulut dan hidungnya hingga terluka. Kaki dan tanggannya terikat sehingga tidak bisa melakukan pembrontakan, ia juga tidak diperbolehkan membaca surat kabar, dan diasingkan dalam penjara.
Penganiayaan ini akhirnya terbongkar setelah catatan-catatan milik Alice terekspos ke media dan menarik perhatian dunia. Masyarakat menunjukkan aksi simpatinya dengan mendesak presiden untuk membebaskan Alice serta tawanan lainnya. Presiden Wilson akhirnya membebaskan Alice dan masyarakat lainnya, serta menyetujui amandemen undang-undang dalam pidato kongres. Pada tanggal 26 agustus 1920 , presiden resmi menetapkan undang-undang hak pemilihan umum bagi wanita di Amerika.

Hermeneutika Dilthey
Wilhelm Dilthey lahirkan di Biebrich, Jerman pada tahun 1833. Wilhelm Dilthey adalah seorang filsuf, sejarawan budaya, pendiri epistemologi humaniora dan hermeneutika. Dilthey memiliki kemampuan intelektual yang sangat baik terutama dalam menggabungkan teologi, kesusastraan dengan aspek kefilsafatan. Ia sangat terkenal di negara Jerman karena pemikirannya yang paling menonjol dalam bidang hermeneutika beranjak dari catatan, data yang berkaitan dengan historisitas.
Merujuk pada kajian metodologi, Dilthey membedakan antara Naturwissenschaften (Nature Science) atau ilmu pengetahuan tentang alam dan Geisteswissenschaften (Human Science) atau ilmu pengetahuan tentang batin manusia. Ia juga menganalisis mengenai hakikat pengalaman manusia, menurutnya pengalaman itu ada dua kategori yaitu erfahrung (yang umum) dan erlebnis (yang khusus).
Hermeneutika Dilthey banyak dipengaruhi oleh Schleiermacher. Namun  Dilthey lebih menekankan kepada sejarah. Menurut Dilthey, Schleiermacher telah gagal mempertimbangkan pentingnya perspektif sejarah untuk menyempurnakan tugas hermeneutika, yaitu memahami pengarang lebih baik daripada pengarang tersebut memahami dirinya sendiri. Pokok utama hermeneutikanya adalah human science dengan menggunakan objek.

Film Iron Jawed Angels Ditinjau Dari Hermeneutika Dilthey
Hermeneutika Dilthey menekankan pada Geisteswissenschaften atau ilmu sosial yang merupakan inti dari kehidupan manusia. Pada dasarnya, objek manusia berada pada dimensi batiniah. Untuk memahami subjek, manusia perlu masuk lebih dalam dalam memahami dirinya dengan berpartisipasi aktif membentuk ego (emosi) serta budayanya.  Seperti contoh dalam film Iron Jawed Angels yang dianalisis menggunakan sudut pandang hermeneutika Dilthey.





a. Filsafat Hidup (Philosophie des Lebens)
Keadaan mental sangat berpengaruh besar terhadap kondisi psikis seseorang. Alice, perempuan yang hidup sebagai masyarakat biasa harus mempertaruhkan nyawanya untuk menegakkan hak keadilan. Proses yang ia alami sangatlah panjang dengan berbagai liku di dalamnya, jiwa tak patah semangat, dan integritas tinggi membawanya pada kesadaran untuk memerdekakan kaum perempuan demi mencapai hak berpolitik. Disamping itu, berkat dukungan sahabatnya Lucy, ia semakin yakin bahwa tekadnya tidak salah. Emansipasi perempuan ia dorong untuk mewujudkan kehidupan perempuan yang lebih baik di masa depan.
Tak hanya sebatas omong kosong belaka, Alice terjun ke dunia masyarakat berbekal kepiawaiannya dalam berkomunikasi verbal maupun non verbal, analisis pikirnya yang rasional serta logis dan semangat juang yang tinggi. Seperti pemikiran Dilthey bahwa “Aktivitas hidup manusia merupakan substansi sejarah dan objek Geisteswissenschaften”, apa yang dilakukan Alice pada tahun 1920 di Amerika, membuahkan hasil yang menakjubkan dalam dunia politik saat ini. Sejarah tak lepas begitu saja dalam dirinya, banyak yang mengatakan bahwa jika pada saat itu manusia tidak menyadari esensi politik, maka tak akan ada pembebasan hak politik bagi perempuan.  Ia berhasil menyadarkan kaum perempuan “Kaum penguasa adalah pemilik suara, dan suara itulah hak pilih. Jika kamu tidak mempunyai hak pilih maka tidak ada yang akan mendengarkan kamu”, keberaniannya menunjukkan bahwa ia adalah pejuang garis keras serta seorang yang emosional (demi kebaikan).
Hidup adalah kontinum kenyataan yang bergerak dalam sejarah. Sejarah yang lalu hanya bisa diubah di masa depan. Pengalaman pahit Alice hadapi ketika ia harus mendapati fakta bahwa dari aksinya itu, ia harus menjalani hari-harinya dengan kebimbangan, kesendirian serta psikis yang lemah (depresi) akibat kematian seorang sahabatnya. Sebenarnya, film ini tidak dapat menerangkan bagaimana Alice menjalani hidupnya dengan penuh pengorbanan, namun pasti pengamat film dapat memahami apa yang dirasakan Alice pada saat itu.
b.  Das Verstehen
Hidup merupakan keseluruhan yang tak dapat terpisahkan, semua yang menyejarah di kehidupan manusia merupakan rangkaian peristiwa yang menghuungkan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.  Orientasi hidup Dilthey, manusia menciptakan nilai baru seperti Alice yang membuka mata dunia bahwa wanita tidak selamanya lemah, sehingga sebagian haknya kurang terpenuhi. Selain itu segala ide serta gagasan yang terdapat dipikirannya sangat cemerlang, hal ini dapat dibuktikan pada saat ia memberikan ide untuk melakukan aksi dengan pakaian khas orang Yunani agar terlihat menarik perhatian seluruh orang. Inilah yang dimaksud Dilthey sebagai verstehen yaitu konstruksi intelektual oleh individu terhadap objeknya. Disamping itu, Alice mempelajari kondisi masyarakat pada saat itu dan melihat fenomena yang ada untuk dijadikan strategi demi menjalankan aksinya. Kategori dalam, luar (batin-fisik) merupakan titik tolak verstehen, tindakan yang dilakukan Alice adalah cermin isi hatinya atau ekspresi kehidupan yang ia alami, sikapnya yang berani menerima resiko demi kemaslahatan kaum perempuan menjadikan mentalnya sekuat baja.
c. Dasar Epistemologis Dan Logis Ilmu Sejarah
Negara Amerika Serikat pada dasarnya menolak emansipasi kaum perempuan. Perempuan tidak boleh campur-tangan dengan dunia politik. Perempuan sangat dimarginalitaskan. Alice beserta Lucy adalah perempuan yang cerdas, wawasannya terhadap politik juga tinggi, ia merupakan salah satu pemikir gagasan-gagasan tentang perempuan saat para perempuan melakukan diskusi. Dari pengetahuan dan dinamika yang terjadi di masyarakat inilah yang membuat keduanya sadar peran penting perempuan dalam mengambil keputusan. Jumlah massa perempuan yang mengikuti diskusi tergolong banyak, maka dari itu Alice beserta kawannya membentuk partai wanita independen.
Partai wanita independen melakukan aksi besar-besaran di depan gedung presiden, kemudian tak lama setelah itu mereka semua ditangkap dan dimasukkan ke penjara karena dianggap menggangu kepentingan publik dan melanggar aturan. Dari sinilah revolusi akan dimulai.  Saat berada di dalam penjara, solidaritas Alice dan teman-temannya kian erat sehingga membentuk tekad yang semakin kuat. Alice dengan pengetahuannya yang luas, kharisma serta wibawanya dapat mempengaruhi setiap tahanan penjara, ia dan teman-temannya melakukan aksi mogok makan, bahkan tahanan yang tak dikenalpun mendukung aksi itu. Jika ia melakukan mogok makan, setidaknya tuntutan yang ia perjuangkan selama ini dapat terpenuhi. Menurutnya, perlakuan seperti ini sangat diskriminatif, jika berita ini menyebar luas ke ranah Internasional maka presiden dan jajaran pemerintahannya akan mendapat kecaman publik maupun Internasional.

d. Hermeneutika Sebagai Basis Geisteswissenschaften
Tujuan hermeneutika sebagai geisteswissenschaften untuk mengembangkan pengetahuan dengan memakai ekspresi kehidupan batin manusia. Melalui sudut pandang ilmu sosial, geisteswissenschaften menarah pada tingkat emosi, pikiran manusia. Perempuan sudah dimarginalitaskan oleh negara demokrasi Amerika Serikat, karena permainan politik kekuasaan pada masa itu. Alice semakin yakin bahwa pemerintah memang menentang kaum perempuan untuk bersuara di ranah politik. Seorang petugas perempuan secara diam-diam membantu Alice menuliskan surat untuk temannya yang kebetulan suaminya adalah salah satu orang dalam pemerintahan. Alice menceritakan tentang penyiksaan yang dialaminya, teman yang mengetahuinya beserta suaminya merasa sangat miris dengan perlakuan polisi tersebut. Suami teman Alice langsung menyebarkan surat tersebut ke media massa dan mendapatkan respon serta simpati dari rakyat maupun dunia Internasional. Tak lama setelah itu dilaksanakan amandemen konstitusi tentang hak pilih perempuan.

Kesimpulan
Alice sebenarnya merupakan keluarga berada, namun tekad dan sifat keras kepalanya membuat ia berani terjun ke dunia luar yang sebelumnya tak pernah ia kenali.  Disisi lain, Alice seorang yang tegas dengan dirinya sendiri sehingga ia mampu memperjuangkan suaranya sampai sejauh itu.  Dari film ini dapat disimpulkan bahwa ada keterkaitan denga  hermeneutika Dilthey mengenai historisitas perjuangan emansipasi wanita di Amerika Serikat, tujuan yang pasti, dampak masa lalu, masa kini serta masa depan melalui sistem sosial yang dipelajari. Pengalaman (erlebnis) seorang Alice sebagai basis baginya untuk melakukan tindakan lain, atau dapat dimaknai sebagai kesatuan hidup. Wissenschaft, badan pengetahuan yang dibangun secara sistematis berhubungan dengan interpretasi mengenai eksistensi manusia, mind dan spirit sebagai pelengkap hidup. Alice mengorbankan dirinya sebagai pejuang pengubah tradisi politisasi sejak dulu dan kemenangannya dijadikan sebagai orientasi masa depan. Tak lain, mental yang kuat serta kesadaran yang tinggi dalam diri Alice dibuktikan dengan kronologi sejarahnya, ia dapat memenangkan hak emansipasi wanita. Hermeneutika Dilthey mencoba menunjukkan hubungan pengetahuan manusia dengan sejarah untuk mewujudkan sesuatu di masa depan dengan terarah dengan menjelaskan universalitas manusia.

DAFTAR PUSTAKA
Palmer, Richard E. 1982. Hermeneutics : Interpretation Theory in Schlenermacher, 
                Dilthey, Heidegger and Gadamer. Illinois: Northwestern University Press.
Bulhof, Ilsen. 1980. Wilhelm Dilthey. London: Martinus Nijhoff Publishers.
Kaelan. 2009. Filsafat Bahasa, Semiotika dan Hermeneutika. Yogyakarta: Paradigma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Liberalisme sebagai Konfrontasi Ideologi Pembentuk Peradaban

By: Prafira Laili Zahra NB:  Apabila anda mengutip tulisan dari Blog ini, harap  mencantumkan link  yang akurat untuk menghindari pla...