by :
Prafira Laili Zahra
NB:
Apabila anda mengutip tulisan dari Blog ini, harap mencantumkan link yang akurat untuk menghindari plagiarisme! Terimakasih.
Latar
Belakang
Film, merupakan hasil karya seni,
ekspresi manusia yang berfungsi sebagai media edukatif, informatif serta
persuasif. Iron Jawed Angles, film historis yang menceritakan tentang kisah
perjuangan kaum perempuan dengan visi memperjuangkan hak atas emansipasi
wanita. Film yang mengusung tema sejarah ini diambil dari kisah nyata kaum
perempuan untuk mendapatkan hak politik kesetaraan dengan kaum laki-laki di
Amerika Serikat pada tahun 1920. Perempuan tidak diberi hak politik untuk
berpartisipasi dalam pemilu pada saat itu. Alice Stokes Paul sebagai pimpinan
gerakan suffragist tak hentinya
melakukan aksi ekstrim pada saat itu, bahkan aksinya tak usai ketika di Amerika
sedang terjadi Perang Dunia I. Perjalanan dengan liku bergelombang, inilah
masa-masa kerasnya perjuangan Alice, ia harus rela ditangkap, diasingkan,
dipenjara, dan di siksa oleh suruhan pemerintah.
Dilthey, filsuf kebangsaan Jerman
membuat kerangka teori pikirnya mengenai sejarawan, humaniora, dan hermeneutika.
Ilmu hermeneutika digunakannya untuk mengungkapkan filsafat hidup, dasar
epistemologis dan logis ilmu sejarah. Menurutnya, manusia tidak dapat meneliti
kehidupan batin orang lain secara langsung melainkan mereka harus membangun
akses dengan manifestation of life, hal
ini yang menyatukan film Iron Jawed
Angels dengan analisa Dilthey bahwasannya sebagai pejuang hak perpempuan, Alice
memahami keterpurukan kaum perempuan pada saat haknya didiskriminasi, apa
dialami sejak remaja hingga ia sadar kesalahan pada penguasa dengan melihat
fenomenologi masyarakat secara langsung membuat progress sebagai usaha untuk
mengubah masa depan. Hermeneutika dinilai sebagai pemahaman interpretatif
sebagai proses pokok dalam memahami human
science dengan perpaduan simbol, ekspresi yang mencerminkan hidup
seseorang..
Berangkat dari historisitas tersebut,
penulis menentukan kajian mengenai “Film Iron Jawed Angels Ditinjau Dari
Hermeneutika Dilthey” sebagai judul makalah ini.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana
analisis hermeneutika Dilthey terhadap film Iron Jawed Angels ?
Sinopsis Iron
Jawed Agels
Iron Jawed Angels, film berkisah
kaum perempuan Amerika Serikat dalam memperjuangkan “hak emansipasi” di ranah politik.
Dimulai dari perjalanan hidup Alice
Stokes Paul sebagai pimpinan gerakan hak pilih (suffragist) Amerika, didukung
oleh rekannya bernama Lucy. Tujuan membentuk gerakan ini, Alice berkeinginan
untuk mendapatkan dukungan melalui asosiasi sejumlah lembaga dalam mengamandemen
undang-undang mengenai politik, ketidak-adilan, pelarangan hak pilih perempuan
di hampir seluruh negara bagian Amerika
Serikat. Terlebih, keadaan lingkungannyalah yang membuat ia berani menyuarakan
haknya.
Alice mulai memperjuangkan nasib
kaum wanita dengan mengajak Anna Howard Showel ebagai ketua asosiasi NAWSA
(National American Woman Suffarge Assosiation) sekaligus mengambil alih komite
NAWSA di Washington DC untuk menyuarakan aspirasi politiknya. Jalan pertama
yang diambil dengan mengadakan parade mempromosikan hak pilih perempuan melalui
gabungan pekerja industri, pekerja sosial, pengacara, buruh. Dengan terjun
langsung ke lapangan, ia mengajak masyarakat untuk mendukung gerakannya dalam
memperjuangkan hak asasi perempuan. Awalnya, para pekerja tidak menghirukan
perkataan Alice, namun karena kepiawaiannya berkomunikasi, mengambil hati
masyarakat dan mengungkapkan gagasannya secara logis, masyarakat akhirnya ikut
dalam menyerukan suaranya. Namun usaha ini gagal ketika terjadinya kerusuhan di
depan gedung presiden yang menyebabkan berjatuhnya korban jiwa.
Pada saat yang bersamaan, terjadi
Perang Dunia I, namun Alice dan masyarakat. Keadaan perang yang sedang terjadi
membuat masyarakat yang ikut dalam demo serta Alice ditangkap paksa dengan
tuduhan mengganggu ketertiban umum. Padahal ini hanya rekayasa politik agar
kaum laki-laki tetap berkuasa memegang andil pemerintahan. Di dalam penjara,
Alice melakukan pemberontakan dengan aksi mogok makan, yang kemudian diikuti
pula oleh masyarakat lainnya. Namun bukannya di kasihani, justru di dalam
penjara mereka mendapatkan perlakuan yang kasar dan tidak manusiawi. Ia dipaksa
menelan makanan dengan memasukkan selang ke dalam mulut dan hidungnya hingga
terluka. Kaki dan tanggannya terikat sehingga tidak bisa melakukan
pembrontakan, ia juga tidak diperbolehkan membaca surat kabar, dan diasingkan
dalam penjara.
Penganiayaan ini akhirnya terbongkar
setelah catatan-catatan milik Alice terekspos ke media dan menarik perhatian
dunia. Masyarakat menunjukkan aksi simpatinya dengan mendesak presiden untuk
membebaskan Alice serta tawanan lainnya. Presiden Wilson akhirnya membebaskan Alice
dan masyarakat lainnya, serta menyetujui amandemen undang-undang dalam pidato
kongres. Pada tanggal 26 agustus 1920 , presiden resmi menetapkan undang-undang
hak pemilihan umum bagi wanita di Amerika.
Hermeneutika
Dilthey
Wilhelm Dilthey lahirkan di
Biebrich, Jerman pada tahun 1833. Wilhelm Dilthey adalah seorang filsuf,
sejarawan budaya, pendiri epistemologi humaniora dan hermeneutika. Dilthey memiliki
kemampuan intelektual yang sangat baik terutama dalam menggabungkan teologi,
kesusastraan dengan aspek kefilsafatan. Ia sangat terkenal di negara Jerman
karena pemikirannya yang paling menonjol dalam bidang hermeneutika beranjak
dari catatan, data yang berkaitan dengan historisitas.
Merujuk pada kajian metodologi, Dilthey
membedakan antara Naturwissenschaften (Nature Science) atau ilmu pengetahuan
tentang alam dan Geisteswissenschaften (Human Science) atau ilmu pengetahuan
tentang batin manusia. Ia juga menganalisis mengenai hakikat pengalaman manusia,
menurutnya pengalaman itu ada dua kategori yaitu erfahrung (yang umum) dan erlebnis
(yang khusus).
Hermeneutika Dilthey banyak
dipengaruhi oleh Schleiermacher. Namun Dilthey
lebih menekankan kepada sejarah. Menurut Dilthey, Schleiermacher telah gagal
mempertimbangkan pentingnya perspektif sejarah untuk menyempurnakan tugas
hermeneutika, yaitu memahami pengarang lebih baik daripada pengarang tersebut
memahami dirinya sendiri. Pokok utama hermeneutikanya adalah human science dengan menggunakan objek.
Film Iron Jawed Angels Ditinjau Dari Hermeneutika Dilthey
Hermeneutika Dilthey menekankan pada
Geisteswissenschaften atau ilmu
sosial yang merupakan inti dari kehidupan manusia. Pada dasarnya, objek manusia
berada pada dimensi batiniah. Untuk memahami subjek, manusia perlu masuk lebih
dalam dalam memahami dirinya dengan berpartisipasi aktif membentuk ego (emosi)
serta budayanya. Seperti contoh dalam
film Iron Jawed Angels yang dianalisis menggunakan sudut pandang hermeneutika
Dilthey.
a. Filsafat Hidup (Philosophie des Lebens)
Keadaan mental sangat berpengaruh
besar terhadap kondisi psikis seseorang. Alice, perempuan yang hidup sebagai
masyarakat biasa harus mempertaruhkan nyawanya untuk menegakkan hak keadilan.
Proses yang ia alami sangatlah panjang dengan berbagai liku di dalamnya, jiwa
tak patah semangat, dan integritas tinggi membawanya pada kesadaran untuk
memerdekakan kaum perempuan demi mencapai hak berpolitik. Disamping itu, berkat
dukungan sahabatnya Lucy, ia semakin yakin bahwa tekadnya tidak salah. Emansipasi
perempuan ia dorong untuk mewujudkan kehidupan perempuan yang lebih baik di
masa depan.
Tak hanya sebatas omong kosong
belaka, Alice terjun ke dunia masyarakat berbekal kepiawaiannya dalam
berkomunikasi verbal maupun non verbal, analisis pikirnya yang rasional serta
logis dan semangat juang yang tinggi. Seperti pemikiran Dilthey bahwa “Aktivitas hidup manusia merupakan substansi
sejarah dan objek Geisteswissenschaften”, apa yang
dilakukan Alice pada tahun 1920 di Amerika, membuahkan hasil yang menakjubkan
dalam dunia politik saat ini. Sejarah tak lepas begitu saja dalam dirinya,
banyak yang mengatakan bahwa jika pada saat itu manusia tidak menyadari esensi
politik, maka tak akan ada pembebasan hak politik bagi perempuan. Ia berhasil menyadarkan kaum perempuan “Kaum penguasa adalah
pemilik suara, dan suara itulah hak pilih. Jika kamu tidak mempunyai hak pilih
maka tidak ada yang akan mendengarkan kamu”, keberaniannya menunjukkan bahwa ia
adalah pejuang garis keras serta seorang yang emosional (demi kebaikan).
Hidup adalah kontinum kenyataan yang
bergerak dalam sejarah. Sejarah yang lalu hanya bisa diubah di masa depan.
Pengalaman pahit Alice hadapi ketika ia harus mendapati fakta bahwa dari
aksinya itu, ia harus menjalani hari-harinya dengan kebimbangan, kesendirian
serta psikis yang lemah (depresi) akibat kematian seorang sahabatnya.
Sebenarnya, film ini tidak dapat menerangkan bagaimana Alice menjalani hidupnya
dengan penuh pengorbanan, namun pasti pengamat film dapat memahami apa yang
dirasakan Alice pada saat itu.
b.
Das Verstehen
Hidup
merupakan keseluruhan yang tak dapat terpisahkan, semua yang menyejarah di
kehidupan manusia merupakan rangkaian peristiwa yang menghuungkan masa lalu,
masa kini dan masa yang akan datang. Orientasi hidup Dilthey, manusia menciptakan nilai
baru seperti Alice yang membuka mata dunia bahwa wanita tidak selamanya lemah,
sehingga sebagian haknya kurang terpenuhi. Selain itu segala ide serta gagasan
yang terdapat dipikirannya sangat cemerlang, hal ini dapat dibuktikan pada saat
ia memberikan ide untuk melakukan aksi dengan pakaian khas orang Yunani agar
terlihat menarik perhatian seluruh orang. Inilah yang dimaksud Dilthey sebagai verstehen
yaitu konstruksi intelektual oleh individu terhadap objeknya. Disamping itu,
Alice mempelajari kondisi masyarakat pada saat itu dan melihat fenomena yang
ada untuk dijadikan strategi demi menjalankan aksinya. Kategori dalam, luar
(batin-fisik) merupakan titik tolak verstehen, tindakan yang dilakukan Alice
adalah cermin isi hatinya atau ekspresi kehidupan yang ia alami, sikapnya yang
berani menerima resiko demi kemaslahatan kaum perempuan menjadikan mentalnya
sekuat baja.
c. Dasar Epistemologis Dan Logis Ilmu
Sejarah
Negara
Amerika Serikat pada dasarnya menolak emansipasi kaum perempuan. Perempuan
tidak boleh campur-tangan dengan dunia politik. Perempuan sangat
dimarginalitaskan. Alice beserta Lucy adalah perempuan yang cerdas, wawasannya
terhadap politik juga tinggi, ia merupakan salah satu pemikir gagasan-gagasan
tentang perempuan saat para perempuan melakukan diskusi. Dari pengetahuan dan
dinamika yang terjadi di masyarakat inilah yang membuat keduanya sadar peran
penting perempuan dalam mengambil keputusan. Jumlah massa perempuan yang
mengikuti diskusi tergolong banyak, maka dari itu Alice beserta kawannya membentuk
partai wanita independen.
Partai
wanita independen melakukan aksi besar-besaran di depan gedung presiden,
kemudian tak lama setelah itu mereka semua ditangkap dan dimasukkan ke penjara
karena dianggap menggangu kepentingan publik dan melanggar aturan. Dari sinilah
revolusi akan dimulai. Saat berada di dalam
penjara, solidaritas Alice dan teman-temannya kian erat sehingga membentuk
tekad yang semakin kuat. Alice dengan pengetahuannya yang luas, kharisma serta
wibawanya dapat mempengaruhi setiap tahanan penjara, ia dan teman-temannya melakukan
aksi mogok makan, bahkan tahanan yang tak dikenalpun mendukung aksi itu. Jika
ia melakukan mogok makan, setidaknya tuntutan yang ia perjuangkan selama ini
dapat terpenuhi. Menurutnya, perlakuan seperti ini sangat diskriminatif, jika
berita ini menyebar luas ke ranah Internasional maka presiden dan jajaran
pemerintahannya akan mendapat kecaman publik maupun Internasional.
d. Hermeneutika Sebagai Basis
Geisteswissenschaften
Tujuan
hermeneutika sebagai geisteswissenschaften untuk mengembangkan
pengetahuan dengan memakai ekspresi kehidupan batin manusia. Melalui sudut
pandang ilmu sosial, geisteswissenschaften menarah pada tingkat emosi,
pikiran manusia. Perempuan sudah dimarginalitaskan oleh negara demokrasi
Amerika Serikat, karena permainan politik kekuasaan pada masa itu. Alice semakin
yakin bahwa pemerintah memang menentang kaum perempuan untuk bersuara di ranah
politik. Seorang petugas perempuan secara diam-diam membantu Alice menuliskan
surat untuk temannya yang kebetulan suaminya adalah salah satu orang dalam
pemerintahan. Alice menceritakan tentang penyiksaan yang dialaminya, teman yang
mengetahuinya beserta suaminya merasa sangat miris dengan perlakuan polisi
tersebut. Suami teman Alice langsung menyebarkan surat tersebut ke media massa
dan mendapatkan respon serta simpati dari rakyat maupun dunia Internasional. Tak
lama setelah itu dilaksanakan amandemen konstitusi tentang hak pilih perempuan.
Kesimpulan
Alice
sebenarnya merupakan keluarga berada, namun tekad dan sifat keras kepalanya
membuat ia berani terjun ke dunia luar yang sebelumnya tak pernah ia kenali. Disisi lain, Alice seorang yang tegas dengan
dirinya sendiri sehingga ia mampu memperjuangkan suaranya sampai sejauh
itu. Dari film ini dapat disimpulkan
bahwa ada keterkaitan denga hermeneutika
Dilthey mengenai historisitas perjuangan emansipasi wanita di Amerika Serikat,
tujuan yang pasti, dampak masa lalu, masa kini serta masa depan melalui sistem
sosial yang dipelajari. Pengalaman (erlebnis) seorang Alice sebagai basis
baginya untuk melakukan tindakan lain, atau dapat dimaknai sebagai kesatuan
hidup. Wissenschaft, badan pengetahuan yang dibangun secara sistematis berhubungan
dengan interpretasi mengenai eksistensi manusia, mind dan spirit sebagai
pelengkap hidup. Alice mengorbankan dirinya sebagai pejuang pengubah tradisi
politisasi sejak dulu dan kemenangannya dijadikan sebagai orientasi masa depan.
Tak lain, mental yang kuat serta kesadaran yang tinggi dalam diri Alice
dibuktikan dengan kronologi sejarahnya, ia dapat memenangkan hak emansipasi
wanita. Hermeneutika Dilthey mencoba menunjukkan hubungan pengetahuan manusia
dengan sejarah untuk mewujudkan sesuatu di masa depan dengan terarah dengan
menjelaskan universalitas manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Palmer, Richard E. 1982. Hermeneutics : Interpretation Theory in
Schlenermacher,
Dilthey, Heidegger
and Gadamer. Illinois: Northwestern University Press.
Bulhof, Ilsen. 1980. Wilhelm Dilthey. London: Martinus Nijhoff
Publishers.
Kaelan. 2009. Filsafat Bahasa, Semiotika dan Hermeneutika. Yogyakarta:
Paradigma.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar