Selasa, 26 Maret 2019

Analisis Novel Rendez-Vous Di Selat Hormuz by Zhaenal Fanani

by :
Prafira Laili Zahra


NB: 
Apabila anda mengutip tulisan dari Blog ini, harap mencantumkan link yang akurat untuk menghindari plagiarisme! Terimakasih. 




              Selat Hormuz memiliki lebar lima puluh empat kilometer dan memisahkan Iran dan Uni Emirat Arab. Berada di Teluk Oman dan Teluk Persia. Perairan ini merupakan akses satu-satunya pengiriman minyak ke seluruh penjuru dunia. Menariknya, Hormuz menjadi perairan strategis dan spesial karena sebagai pengendali pusat stabilitas perminyakan. Disisi lain, di atas permukaan air Hormuz mengalir belasan barel minyak, bahkan di udarapun mengambang kebutuhan minyak dunia.
            Novel ini memiliki gejolak politik antar negara yang tinggi, termasuk konfrontasi di dalamnya. Bagaimana tidak, hampir seluruh aspek penting kehidupan berkaitan dengan perairan ini termasuk menjadi harapan masyarakat dunia modern. Negara besar tak mau kalah untuk mengkolonialisasi perairan tersebut melalui jalur politik. Jika dicermati, dalam kurun waktu yang sangat lama terjadi perpindahan hak otonomi misalnya sebelum abad ke-20 perairan ini dikuasai oleh imperialisme barat (Inggris). Menjelang sepertiga abad dua puluh, Iran mengambil alih pemerintahan; peran inggris di ambil alih oleh Amerika dan menjadikan selat Hormuz sebagai bagian teritorial keamanan nasionalnya. Ditambah dengan pengembangan senjata nuklir oleh Iran yang diwaspadai Israel termasuk vatikan yang menganjurkan kekuasaan tunggal. Legitimasi politik dari adanya konfigurasi untuk menempati posisi teratas memerintah Selat Hormuz membuat konflik semakin intractable dan membuka celah krisis politik ekonomi.
            Ali Khadafi, seorang simbolog menerima selembar kertas tipis dari seseorang yang tidak ia kenal (Mister Mustafa Heifi), ribuan teka-teki hadir dalam pikirannya hingga tak terasa ia memulai permainan mengejutkan. Profesor Karina Lombard, seorang filantrop dan ahli simbologi memiliki hubungan erat dengan Khadafi. Lombard di anggap sebagai guru besar sekaligus wanita cerdas. Setelah menyemakkan kejadian yang di alami, tanpa sengaja ia dipertemukan dengan seorang gadis ahli kriptologi, Zhema Botuoty namanya. Kejadian tak terduga hadir dalam setiap langkah mereka, tidak ada yang tahu siapa yang benar dan dapat dipercaya; yang mereka tahu dari setiap problem di hadapannya adalah krisis Selat Hormuz dipastikan menjadi alih-alih krisis multikompleks.
            Bangunan arsitektur eropa menjadi tempat mengerikan, bukan dalam hal ruang namun kejadian dimana Profesor Karina Lombard dibunuh dan tuduhan mengarah kepada Khadafi. Seorang agen savama, Akbar Sulamieh mengintrogasi dan mengaitkan Khadafi dengan krisis Selat Hormuz. Keganjalan mulai muncul di benak Khadafi, bahwa Akbar Sulameh hanya memainkan permainan untuk mendapatkan kertas itu. Pada bagian ke sebelas, ada dua kejadian bersamaan yang menjadi perhatian, pertama seorang dokter bernama Rashef Sadary yang mengobati Profesor Karina Lombard dengan sengaja mengkonversi pertanyaan acak mengenai hubungannya dengan Heifi. Kedua, di kota suci Qom seorang dokter datang kepada Mahmod Khuzainy (orang yang merencanakan pembunuhan Karina Lombard) untuk membunuhnya. Terbunuhnya pemimpin tertinggi spiritual Iran Ayatollah Bazandari juga dipertanyakan. Keresahan kian menjadi, firasat tercampur-aduk oleh kejadian-kejadian tak logis, termasuk Khadafi ketika oleh Profesor Karina diperintahkan untuk segera membuka kertas yang sangat tipis, bisa dikatakan transparan dan rapuh. Pikirannya semakin abstrak ketika ia memikirkan alasan mengapa Profesor Karina menitipkan kertas itu kepadanya.
            Pada bagian ke enambelas, untuk memecahkan sandi (berisi angka) di kertas itu, Khadafi meminta Maryam Dalileh, seorang kepala Gereja Saint Tatavous agar membantunya. Sebagai awal pemecah sandi, kata kunci menjadi jawaban penting, pengalaman dan pembahasan spesifik yang di alami Khadafi menjadi sangat bermakna. Kegusuran tampak jelas di raut wajah Khadafi, setelah menemukan jawaban simbol tersebut yang berarti menujuk objek kapal tanker dengan kode MV.JUBBA.XX, ia segara bergegas keluar meninggalkan perpustakaan gereja.
            Di akhir cerita dijelaskan penulis bahwa Profesor Karina Lombardlah yang ada di balik tragedi-tragedi tersebut dengan alasan memoar bahwa anak perempuan bernama Emile Graz lahir pada Minggu, 20 Juni 1941, dua hari sebelum Adolf Hitler membagi 30 divisi angkatan bersenjata menjadi 3 kesatuan untuk melakukan invansi militer ke Rusia dengan membawa pasukan “pembersih” SS untuk menyapu bersih orang komunis dan Yahudi. Kedua orangtua Emile merupakan keturunan Yahudi Jerman (Albert Schument) dan Yahudi Israel (Eliyah Krots). Kemudian Eliyah Krots (ibu dari Emile) ditangkap tentara Nazi Jerman, tragedi yang menyisakan pengalaman pahit, memedihkan dan penyiksaan. Memoar kesaksiannya ditulis dalam lima puluh halaman penuh.   
              Profesor Karina Lombard ingin memperlihatkan keunggulan bangsa Yahudi, dan itu semua dimulai dari Selat Hormuz. Saat sampai di Selat Hormuz, Profesor Karina Lombard sudah memegang remote control menatap kapal tanker dengan kode yang sama untuk menghancurkannya. Naas, ia tertembak oleh Sulameh. Tak disangka bahwa yang ada didalam kapal itu adalah tim antiteror dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Liberalisme sebagai Konfrontasi Ideologi Pembentuk Peradaban

By: Prafira Laili Zahra NB:  Apabila anda mengutip tulisan dari Blog ini, harap  mencantumkan link  yang akurat untuk menghindari pla...