By:
Prafira Laili Zahra
Prafira Laili Zahra, inilah nama pemberian orangtua
ketika saya mulai membuka mata melihat indahnya dunia. Bukanlah tanpa suatu
alasan nama itu diberikan, banyak makna tercipta dibalik esensi sebuah nama.
Tepat pada 12 Januari 1999 di kota Yogyakarta, gadis kecil lucu nan
menggemaskan terlahir di dunia. Ya, inilah saya yang saat ini sudah remaja
menduduki bangku kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Hari itu adalah
hari yang aku tunggu untuk memulai petualanganku dalam balutan nuansa mahasiswa.
Terbesit dalam pikiranku suatu hal yang akan berkesan dalam hidupku. Ku awali
hari dengan penuh semangat. Untuk mengawali perjalanan menempuh terjalnya
mengarungi samudra ilmu. Di sekolah baru yang awalnya aku tak tau tentang seluk
beluk di dalamnya. Dengan diantar ayah tercinta, saya mulai petualangan dengan
sejuta impian membawa harapan untuk masa depan.
Hari itu hari pertamaku menapaki langkah di
Universitas terbaik se-Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Aku melihat
sekelilingku tak ada yang memperhatikanku. Aku mencoba cari teman, beruntung
diriku yang mudah bergaul ini. Sejak saat itulah petualanganku dimulai. Mulai
dari membawa barang-barang yang kurang aku kenal untuk persiapan OSPEK, sampai
aku dan teman-teman lain mencari perlengkapan yang sangat aneh misalnya pom-pom dan kertas asturo
berwarna-warni dan lebih menantangnya lagi, sebelum ospek mahasiswa baru diberi tugas semacam tulisan tangan (essay, MT, dll). Dengan terjadinya peristiwa itu maka bertambahlah motivasiku
dalam belajar, aku berusaha dengan sekuat tenaga mewujudkan cita-citaku dan
impianku di kampus kebanggan ini. Didukung faktor yang mungkin banyak orang katakan itu adalah hal yang
tidak sejalan dalam riwayat belajarku.
Manusia memiliki temporalitas dimana ia mengadakan
dirinya sendiri, seperti halnya saya memiliki sesutu yang sudah dimiliki
sebelumnya yaitu historisitas. Saya sebagai manusia yang menyejarah
menindaklanjuti peristiwa yang terjadi
di masa lampau dan akan berlangsung dalam waktu yang akan datang. Sebagai suatu
peristiwa aktual, saya memberi pengalaman dalam dunia saya yang kemudian dapat
mengubah hidup agar kian berwarna. Seperti yang dikatakan Heidegger bahwa
historisitas merupakan “takdir” individu di masa lalunya. Masa lalu yang
sebelumnya sudah saya kerjakan akan membentuk suatu orientasi bagi masa depan
saya sehingga pembentukan diri saya semakin terbuka lebar dengan merancang
sesuatu yang saya inginkan dengan bebas. Saya, seorang yang aktif di segala
macam kegiatan membuat diri saya kian dikenal teman-teman kampus. Mulai dari
mengikuti kegiatan organisasi, kepanitiaan, diskusi dan sebagainya. Dengan
berbagai aktivitas yang saya miliki, saya yakin orang lain dapat tau keberadaan
saya walau terkadang tak selamanya mereka mengingat nama saya. Namun, ketika
kami berpapasan dengan hanya teguran atau sapaan saja begitu berharga dalam
diri saya.
Saya
memiliki esensi yang ada dalam kesadaran. Saya sebagai subjek yang menghadirkan
objek (benda) lain karena kehadiran saya sebagai makhluk yang sadar. Tanpa
kehadiran saya, belum tentu objek disekeliling saya ada atau bahkan bisa jadi
tidak sama seperti saat ini. Eksistensi saya sebagai makhluk hidup bernafas, berfikir sekaligus sadar akan
keberadaan dengan menafsirkan dunia yang pada mulanya ketidak-eksisan saya
membawa pada suatu kutub dimana objek lain harus merasakan kehadiran saya
sebagai manusia yang bermanfaat. Misalnya pada usia 2 tahun, ketika saya dapat
berbicara dan merasakan lingkungan sosial, saya disadarkan pada sikap dimana
saya harus bergaul dengan orang lain sebagai perwujudan bentuk eksistensi di
masyarakat. Seperti berkenalan, menyebutkan nama dan tempat tinggal ataupun
dengan terbuka dengan orang lain seperti berteman bahkan bersahabat,
mendengarkan diskusi ataupun keluh kesah orang lain. Lambat laun memang manusia
dihadapkan pada realitas dimana ia harus menunjukkan eksistensinya, yang
membuat berbeda ialah ketika ia tetap menjadi diri sendiri atau tidak menjadi
diri sendiri untuk diakui oleh objek lain. Artinya bahwa saya juga dapat
memilih hidup otentik maupun tidak otentik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar