Selasa, 26 Maret 2019

"Siapakah Aku ?" The Philosophy of Essence


By:
Prafira Laili Zahra




Prafira Laili Zahra, inilah nama pemberian orangtua ketika saya mulai membuka mata melihat indahnya dunia. Bukanlah tanpa suatu alasan nama itu diberikan, banyak makna tercipta dibalik esensi sebuah nama. Tepat pada 12 Januari 1999 di kota Yogyakarta, gadis kecil lucu nan menggemaskan terlahir di dunia. Ya, inilah saya yang saat ini sudah remaja menduduki bangku kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Hari itu adalah hari yang aku tunggu untuk memulai petualanganku dalam balutan nuansa mahasiswa. Terbesit dalam pikiranku suatu hal yang akan berkesan dalam hidupku. Ku awali hari dengan penuh semangat. Untuk mengawali perjalanan menempuh terjalnya mengarungi samudra ilmu. Di sekolah baru yang awalnya aku tak tau tentang seluk beluk di dalamnya. Dengan diantar ayah tercinta, saya mulai petualangan dengan sejuta impian membawa harapan untuk masa depan.
        Hari itu hari pertamaku menapaki langkah di Universitas terbaik se-Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Aku melihat sekelilingku tak ada yang memperhatikanku. Aku mencoba cari teman, beruntung diriku yang mudah bergaul ini. Sejak saat itulah petualanganku dimulai. Mulai dari membawa barang-barang yang kurang aku kenal untuk persiapan OSPEK, sampai aku dan teman-teman lain mencari perlengkapan yang sangat aneh misalnya pom-pom dan kertas asturo berwarna-warni dan lebih menantangnya lagi, sebelum ospek mahasiswa baru diberi tugas semacam tulisan tangan (essay, MT, dll). Dengan terjadinya peristiwa itu maka bertambahlah motivasiku dalam belajar, aku berusaha dengan sekuat tenaga mewujudkan cita-citaku dan impianku di kampus kebanggan ini. Didukung faktor yang mungkin banyak orang katakan itu adalah hal yang tidak sejalan dalam riwayat belajarku.
           Manusia memiliki temporalitas dimana ia mengadakan dirinya sendiri, seperti halnya saya memiliki sesutu yang sudah dimiliki sebelumnya yaitu historisitas. Saya sebagai manusia yang menyejarah menindaklanjuti  peristiwa yang terjadi di masa lampau dan akan berlangsung dalam waktu yang akan datang. Sebagai suatu peristiwa aktual, saya memberi pengalaman dalam dunia saya yang kemudian dapat mengubah hidup agar kian berwarna. Seperti yang dikatakan Heidegger bahwa historisitas merupakan “takdir” individu di masa lalunya. Masa lalu yang sebelumnya sudah saya kerjakan akan membentuk suatu orientasi bagi masa depan saya sehingga pembentukan diri saya semakin terbuka lebar dengan merancang sesuatu yang saya inginkan dengan bebas. Saya, seorang yang aktif di segala macam kegiatan membuat diri saya kian dikenal teman-teman kampus. Mulai dari mengikuti kegiatan organisasi, kepanitiaan, diskusi dan sebagainya. Dengan berbagai aktivitas yang saya miliki, saya yakin orang lain dapat tau keberadaan saya walau terkadang tak selamanya mereka mengingat nama saya. Namun, ketika kami berpapasan dengan hanya teguran atau sapaan saja begitu berharga dalam diri saya.       

Saya memiliki esensi yang ada dalam kesadaran. Saya sebagai subjek yang menghadirkan objek (benda) lain karena kehadiran saya sebagai makhluk yang sadar. Tanpa kehadiran saya, belum tentu objek disekeliling saya ada atau bahkan bisa jadi tidak sama seperti saat ini. Eksistensi saya sebagai makhluk hidup  bernafas, berfikir sekaligus sadar akan keberadaan dengan menafsirkan dunia yang pada mulanya ketidak-eksisan saya membawa pada suatu kutub dimana objek lain harus merasakan kehadiran saya sebagai manusia yang bermanfaat. Misalnya pada usia 2 tahun, ketika saya dapat berbicara dan merasakan lingkungan sosial, saya disadarkan pada sikap dimana saya harus bergaul dengan orang lain sebagai perwujudan bentuk eksistensi di masyarakat. Seperti berkenalan, menyebutkan nama dan tempat tinggal ataupun dengan terbuka dengan orang lain seperti berteman bahkan bersahabat, mendengarkan diskusi ataupun keluh kesah orang lain. Lambat laun memang manusia dihadapkan pada realitas dimana ia harus menunjukkan eksistensinya, yang membuat berbeda ialah ketika ia tetap menjadi diri sendiri atau tidak menjadi diri sendiri untuk diakui oleh objek lain. Artinya bahwa saya juga dapat memilih hidup otentik maupun tidak otentik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Liberalisme sebagai Konfrontasi Ideologi Pembentuk Peradaban

By: Prafira Laili Zahra NB:  Apabila anda mengutip tulisan dari Blog ini, harap  mencantumkan link  yang akurat untuk menghindari pla...