Berbicara mengenai cinta, tidak bisa dipisahkan dari
subjek filsafat. Cinta merupakan pribadi dalam banyak hal. Filsafat cinta
menjadi gagasan bersifat pribadi yang dikonsepkan melalui komunikasi bahasa
sebagai objek untuk menggambarkan suatu keadaan. Jenis ucapan dari bahasa dan
filsafat dipertimbangkan dalam konteks permasalahan yang muncul.
Bahasa bukan merupakan
sebuah sistem yang digambarkan secara terpisah dari pembicaraan kita, namun apa
yang dimaksud dengan ungkapan kata-kata. Berfilsafat tentang cinta sebagai cara
untuk mengklarifikasi pada diri sendiri bahasa cinta, penggunaannya, arti dan
ekspresinya karena bahasa yang kita ungkap adalah sesuatu secara fundamental
yang kita bagikan ke orang lain.
Hubungan cinta dan emosi menjadikan identitas
dan membuat makna baru. Emosi melibatkan
dimensi tubuh dan mental. Bahasa cinta sebagai bagian dari emosi memberi
pandangan aspek psikologis dan epistemologis.
Filsafat
kontinental mengarahkan bahasa menjadi
sistem. Analisis konseptual dalam berfilsafat dapat mengungkapkan logika dasar
dari bahasa sehingga ada tata aturan penggunaan bahasa yang benar. Pengalaman
merupakan reaksi terhadap pengakuan berbahasa. Konsep tidak membatasi kebebasan
pikiran kita, tapi memungkinkan pemikiran awal untuk merumuskan kalimat sebagai
bentuk pengungkapan pikiran.
Pemahaman
diri dapat diperoleh melalui cerminan cinta. Bahasa cinta menekankan karakter
yang terbuka melalui kreativitas untuk berbicara dan memahami situasi
baru. Perspektif yang berbeda
berkontribusi pada pemahaman segala sesuatu.
Cinta
sangat penting bagi tindakan melakukan kebaikan, maka dari itu ia tidak bisa
direduksi menjadi sesuatu hal yang menyenangkan. Kriteria kebenaran sebuah
pernyataan sesuai dengan sesuatu dalam kenyataan. Sikap berbeda menentukan masa depan, karena
cinta melibatkan konfrontasi yang berbeda dari kenyataannya. Cinta adalah arti
serta tujuan hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar