Selasa, 26 Maret 2019

Persaingan Bisnis pada Masyarakat Millenials 4.0

by :
Prafira Laili Zahra


NB: 
Apabila anda mengutip tulisan dari Blog ini, harap mencantumkan link yang akurat untuk menghindari plagiarisme! Terimakasih.



            Zaman peralihan merupakan titik tolak manusia untuk mengembangkan dirinya melalui pendidikan formal maupun informal. Manusia mellennials memasuki tahap disruption, perkembangan peradaban yang kian pesat melahirkan barang dan jasa yang berkualitas namun harga semakin murah. Daya saing industri begitu bergejolak sehingga tidak mudah mendeteksi lawan di arena terbuka, sehingga mereka yang tidak bisa menciptakan inovasi akan terombang-ambing di tengah luasnya persaingan. Semakin terdisrupsi, semakin banyak lawan baru yang samar-samar bahkan tidak terlihat. Selalu ada sebab-akibat dari setiap perbuatan, seperti halnya untuk menarik pelanggan hanya membutuhkan beberapa trick sederhana untuk menciptakan peluang. Lantas, bagaimana cara agar tidak tersungkur dalam dunia disruptif yang memaksa diri untuk menjadi kompetitor?. Motivasi tidaklah cukup untuk melawan distruption, kita memerlukan strategi yaitu mindset. 

              Salah satu mindset ekonomi pertimbangan jangka panjang dengan menggunakan sitem “berbagi” atau disebut sebagai Sharing Economy. Dunia sharing merupakan dunia yang tak mengenal batas. Bagi generasi muda, sharing economy menjadi penyelamat. Gagasan mengenai kesempatan berbagi ada dalam sistem ini, sehingga orang lain tak perlu repot membeli yang baru jika yang lama masih dapat difungsikan. Negara memiliki dua pilihan yaitu tetap hidup dalam owning economy, dengan resiko pasar besar menjadi illegal economy dengan operator pengendali di luar Indonesia atau dengan melegalkan sharing economy dan mendorong pelaku lama menyesuaikan diri. Hal ini dilakukan demi memberikan sumbangsih pemikiran yang relevan guna membentuk program kerja solutif berbasis pro-rakyat. Kegiatan sharing economy menjadi tolak ukur bagi pengembangan masyarakat era millenials, salah satunya melalui internalisasi penyejahteraan sosial.  

               Generasi pembaharu masa depan harus menerapkan prinsip keterbukaan, tidak pandang bulu serta kebijakan yang diambil harus benar-benar bermuara pada masyarakat. Semua yang terjadi di masa depan adalah penentuan diri kita saat ini, Apakah kita akan menjadi penggerak perubahan atau hanya pengikut zaman.

Analisis Novel Rendez-Vous Di Selat Hormuz by Zhaenal Fanani

by :
Prafira Laili Zahra


NB: 
Apabila anda mengutip tulisan dari Blog ini, harap mencantumkan link yang akurat untuk menghindari plagiarisme! Terimakasih. 




              Selat Hormuz memiliki lebar lima puluh empat kilometer dan memisahkan Iran dan Uni Emirat Arab. Berada di Teluk Oman dan Teluk Persia. Perairan ini merupakan akses satu-satunya pengiriman minyak ke seluruh penjuru dunia. Menariknya, Hormuz menjadi perairan strategis dan spesial karena sebagai pengendali pusat stabilitas perminyakan. Disisi lain, di atas permukaan air Hormuz mengalir belasan barel minyak, bahkan di udarapun mengambang kebutuhan minyak dunia.
            Novel ini memiliki gejolak politik antar negara yang tinggi, termasuk konfrontasi di dalamnya. Bagaimana tidak, hampir seluruh aspek penting kehidupan berkaitan dengan perairan ini termasuk menjadi harapan masyarakat dunia modern. Negara besar tak mau kalah untuk mengkolonialisasi perairan tersebut melalui jalur politik. Jika dicermati, dalam kurun waktu yang sangat lama terjadi perpindahan hak otonomi misalnya sebelum abad ke-20 perairan ini dikuasai oleh imperialisme barat (Inggris). Menjelang sepertiga abad dua puluh, Iran mengambil alih pemerintahan; peran inggris di ambil alih oleh Amerika dan menjadikan selat Hormuz sebagai bagian teritorial keamanan nasionalnya. Ditambah dengan pengembangan senjata nuklir oleh Iran yang diwaspadai Israel termasuk vatikan yang menganjurkan kekuasaan tunggal. Legitimasi politik dari adanya konfigurasi untuk menempati posisi teratas memerintah Selat Hormuz membuat konflik semakin intractable dan membuka celah krisis politik ekonomi.
            Ali Khadafi, seorang simbolog menerima selembar kertas tipis dari seseorang yang tidak ia kenal (Mister Mustafa Heifi), ribuan teka-teki hadir dalam pikirannya hingga tak terasa ia memulai permainan mengejutkan. Profesor Karina Lombard, seorang filantrop dan ahli simbologi memiliki hubungan erat dengan Khadafi. Lombard di anggap sebagai guru besar sekaligus wanita cerdas. Setelah menyemakkan kejadian yang di alami, tanpa sengaja ia dipertemukan dengan seorang gadis ahli kriptologi, Zhema Botuoty namanya. Kejadian tak terduga hadir dalam setiap langkah mereka, tidak ada yang tahu siapa yang benar dan dapat dipercaya; yang mereka tahu dari setiap problem di hadapannya adalah krisis Selat Hormuz dipastikan menjadi alih-alih krisis multikompleks.
            Bangunan arsitektur eropa menjadi tempat mengerikan, bukan dalam hal ruang namun kejadian dimana Profesor Karina Lombard dibunuh dan tuduhan mengarah kepada Khadafi. Seorang agen savama, Akbar Sulamieh mengintrogasi dan mengaitkan Khadafi dengan krisis Selat Hormuz. Keganjalan mulai muncul di benak Khadafi, bahwa Akbar Sulameh hanya memainkan permainan untuk mendapatkan kertas itu. Pada bagian ke sebelas, ada dua kejadian bersamaan yang menjadi perhatian, pertama seorang dokter bernama Rashef Sadary yang mengobati Profesor Karina Lombard dengan sengaja mengkonversi pertanyaan acak mengenai hubungannya dengan Heifi. Kedua, di kota suci Qom seorang dokter datang kepada Mahmod Khuzainy (orang yang merencanakan pembunuhan Karina Lombard) untuk membunuhnya. Terbunuhnya pemimpin tertinggi spiritual Iran Ayatollah Bazandari juga dipertanyakan. Keresahan kian menjadi, firasat tercampur-aduk oleh kejadian-kejadian tak logis, termasuk Khadafi ketika oleh Profesor Karina diperintahkan untuk segera membuka kertas yang sangat tipis, bisa dikatakan transparan dan rapuh. Pikirannya semakin abstrak ketika ia memikirkan alasan mengapa Profesor Karina menitipkan kertas itu kepadanya.
            Pada bagian ke enambelas, untuk memecahkan sandi (berisi angka) di kertas itu, Khadafi meminta Maryam Dalileh, seorang kepala Gereja Saint Tatavous agar membantunya. Sebagai awal pemecah sandi, kata kunci menjadi jawaban penting, pengalaman dan pembahasan spesifik yang di alami Khadafi menjadi sangat bermakna. Kegusuran tampak jelas di raut wajah Khadafi, setelah menemukan jawaban simbol tersebut yang berarti menujuk objek kapal tanker dengan kode MV.JUBBA.XX, ia segara bergegas keluar meninggalkan perpustakaan gereja.
            Di akhir cerita dijelaskan penulis bahwa Profesor Karina Lombardlah yang ada di balik tragedi-tragedi tersebut dengan alasan memoar bahwa anak perempuan bernama Emile Graz lahir pada Minggu, 20 Juni 1941, dua hari sebelum Adolf Hitler membagi 30 divisi angkatan bersenjata menjadi 3 kesatuan untuk melakukan invansi militer ke Rusia dengan membawa pasukan “pembersih” SS untuk menyapu bersih orang komunis dan Yahudi. Kedua orangtua Emile merupakan keturunan Yahudi Jerman (Albert Schument) dan Yahudi Israel (Eliyah Krots). Kemudian Eliyah Krots (ibu dari Emile) ditangkap tentara Nazi Jerman, tragedi yang menyisakan pengalaman pahit, memedihkan dan penyiksaan. Memoar kesaksiannya ditulis dalam lima puluh halaman penuh.   
              Profesor Karina Lombard ingin memperlihatkan keunggulan bangsa Yahudi, dan itu semua dimulai dari Selat Hormuz. Saat sampai di Selat Hormuz, Profesor Karina Lombard sudah memegang remote control menatap kapal tanker dengan kode yang sama untuk menghancurkannya. Naas, ia tertembak oleh Sulameh. Tak disangka bahwa yang ada didalam kapal itu adalah tim antiteror dunia.

"Siapakah Aku ?" The Philosophy of Essence


By:
Prafira Laili Zahra




Prafira Laili Zahra, inilah nama pemberian orangtua ketika saya mulai membuka mata melihat indahnya dunia. Bukanlah tanpa suatu alasan nama itu diberikan, banyak makna tercipta dibalik esensi sebuah nama. Tepat pada 12 Januari 1999 di kota Yogyakarta, gadis kecil lucu nan menggemaskan terlahir di dunia. Ya, inilah saya yang saat ini sudah remaja menduduki bangku kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Hari itu adalah hari yang aku tunggu untuk memulai petualanganku dalam balutan nuansa mahasiswa. Terbesit dalam pikiranku suatu hal yang akan berkesan dalam hidupku. Ku awali hari dengan penuh semangat. Untuk mengawali perjalanan menempuh terjalnya mengarungi samudra ilmu. Di sekolah baru yang awalnya aku tak tau tentang seluk beluk di dalamnya. Dengan diantar ayah tercinta, saya mulai petualangan dengan sejuta impian membawa harapan untuk masa depan.
        Hari itu hari pertamaku menapaki langkah di Universitas terbaik se-Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Aku melihat sekelilingku tak ada yang memperhatikanku. Aku mencoba cari teman, beruntung diriku yang mudah bergaul ini. Sejak saat itulah petualanganku dimulai. Mulai dari membawa barang-barang yang kurang aku kenal untuk persiapan OSPEK, sampai aku dan teman-teman lain mencari perlengkapan yang sangat aneh misalnya pom-pom dan kertas asturo berwarna-warni dan lebih menantangnya lagi, sebelum ospek mahasiswa baru diberi tugas semacam tulisan tangan (essay, MT, dll). Dengan terjadinya peristiwa itu maka bertambahlah motivasiku dalam belajar, aku berusaha dengan sekuat tenaga mewujudkan cita-citaku dan impianku di kampus kebanggan ini. Didukung faktor yang mungkin banyak orang katakan itu adalah hal yang tidak sejalan dalam riwayat belajarku.
           Manusia memiliki temporalitas dimana ia mengadakan dirinya sendiri, seperti halnya saya memiliki sesutu yang sudah dimiliki sebelumnya yaitu historisitas. Saya sebagai manusia yang menyejarah menindaklanjuti  peristiwa yang terjadi di masa lampau dan akan berlangsung dalam waktu yang akan datang. Sebagai suatu peristiwa aktual, saya memberi pengalaman dalam dunia saya yang kemudian dapat mengubah hidup agar kian berwarna. Seperti yang dikatakan Heidegger bahwa historisitas merupakan “takdir” individu di masa lalunya. Masa lalu yang sebelumnya sudah saya kerjakan akan membentuk suatu orientasi bagi masa depan saya sehingga pembentukan diri saya semakin terbuka lebar dengan merancang sesuatu yang saya inginkan dengan bebas. Saya, seorang yang aktif di segala macam kegiatan membuat diri saya kian dikenal teman-teman kampus. Mulai dari mengikuti kegiatan organisasi, kepanitiaan, diskusi dan sebagainya. Dengan berbagai aktivitas yang saya miliki, saya yakin orang lain dapat tau keberadaan saya walau terkadang tak selamanya mereka mengingat nama saya. Namun, ketika kami berpapasan dengan hanya teguran atau sapaan saja begitu berharga dalam diri saya.       

Saya memiliki esensi yang ada dalam kesadaran. Saya sebagai subjek yang menghadirkan objek (benda) lain karena kehadiran saya sebagai makhluk yang sadar. Tanpa kehadiran saya, belum tentu objek disekeliling saya ada atau bahkan bisa jadi tidak sama seperti saat ini. Eksistensi saya sebagai makhluk hidup  bernafas, berfikir sekaligus sadar akan keberadaan dengan menafsirkan dunia yang pada mulanya ketidak-eksisan saya membawa pada suatu kutub dimana objek lain harus merasakan kehadiran saya sebagai manusia yang bermanfaat. Misalnya pada usia 2 tahun, ketika saya dapat berbicara dan merasakan lingkungan sosial, saya disadarkan pada sikap dimana saya harus bergaul dengan orang lain sebagai perwujudan bentuk eksistensi di masyarakat. Seperti berkenalan, menyebutkan nama dan tempat tinggal ataupun dengan terbuka dengan orang lain seperti berteman bahkan bersahabat, mendengarkan diskusi ataupun keluh kesah orang lain. Lambat laun memang manusia dihadapkan pada realitas dimana ia harus menunjukkan eksistensinya, yang membuat berbeda ialah ketika ia tetap menjadi diri sendiri atau tidak menjadi diri sendiri untuk diakui oleh objek lain. Artinya bahwa saya juga dapat memilih hidup otentik maupun tidak otentik.

Senin, 25 Maret 2019

Theism Space And Time Country In The Philosophy Of Richard Swinburne Cosmology

by :
Prafira Laili Zahra 
 

NB: 

Apabila anda mengutip tulisan dari Blog ini, harap mencantumkan link yang akurat untuk menghindari plagiarisme! Terimakasih.

 


The cosmological argument has understanding that the universe basically exists because of iits creation. Creation the universe does not escape the initial process, so there is a certain time and distance in each period. In scientific theory, the universe appears with a certain period of time and does not occur at the same time. Thus stated that the universe has no beginning because of the limited and non-permanent existence of the universe, the cosmos occurs through cycles. If before the universe had no time as a cause for its existence then there might be other causes that exist outside of time. Theists believe that God is the creator and regulator of the universe, even if the universe has a beginning it might be caused by material or another universe.
Swinburne's philosophical argument existence of God is simplest explanation. The existence of God in the manifestation of the universe, so there is no need for logical thinking or empirical experience to prove it. He claims that the cosmological argument is better understood as a conclusion of the best explanation (The Coherence of Theism). God's existence is the best explanation for why the universe exists. The inductive argument for existence of God needs to consider all evidence by combining other arguments.
Swinburne's argument explains that science introduces an entity such as a type of particle, atom, molecule that explains something, even though the entity needs to explain itself. The entity is related to period of time the material is arranged into one and forms the universe. Explanation of time period of Swinburne Thesis 1: Reduce the occurrence during a certain period. At this stage, occurrence of the universe such as Big-Bang explosion was reduced to see the axis of the other universe that developed and formed the universe. Thesis 2: Instant tied to their period (science). There are certain periods formation of the universe separately, not at one time producing the universe. Thesis 3: Actual Phenomena results in natural law Potentiality over a period of time. Thesis 4: Measurement of temporal intervals with perfect hours.

 

1A. The universe has existed for a non-overlapping period and same time interval, there is a period of time before the universe exists. The occurrence of  universe because there is a distance between time and period. In this period there was a process of forming the universe in a way that  material  was successfully united at  time had spaced and timed. Something or Things is in that period. This is where the initial concept of the universe can be revealed. This period has a starting point that spans and time in the process in an unspecified period. The results of the material in  period can change depending on something (internal) that exists in the period as the driving factor for the universe.
2A. The universe does not exist for a limited period and the same time interval, there is no time period before the universe exists. According to Swinburne, the resulting time is circular, so that it can return to starting point. Period of creation of the universe even though different times (can be longer or faster) there will definitely be a beginning end and universe in a long range. The time consensual by Swinburne before the existence of the universe gave rise to many branches of thought because it was not explained how beginning of the universe occurred. So from that Swinburne believes that there is an unlimited essence in the process of creating the universe, namely God.
3. The universe has existed for a limited period (non-overlapping) and same time interval (has existed for a limited time). Judging from previous theory of the Parminedes universe, putting things in a beam that is outside causality. Immortality that remains manifested form of a beam. The simple assumption, if we look contents of the universe, it will look the same everywhere and the same in every direction. When there is a Universe something in a different place, is there space and time before the universe? times when thing space and there is a thing that fills up. Time can exist if it is filled with something (the driving factor) of the universe.
Explained in Swinburne's cosmos theory time and beginning are two different things. Time is closely related to space, while the beginning must be attached to time. Something can be said to be true if he can position himself flexibly in space and time. The early period of the cosmos made sense, but it had to be limited because it could be a period without beginning. Using the Swinburne method, there are several steps to determine the occurrence of the universe. First, differentiate periods (classical concept instation). For example, globalization can close time, time here can be interpreted as distance. Second, exposure to time, for example the distance of telephone communication over long distances. Be connected same time concept, as well as the universe that can be connected at one time simultaneously. It may be that there is not only one formation origin of the universe but there are several other universes. Third, the concept of the universe must talk about time even though it was an abstract category. Physical cosmology never shows the universe has no beginning, but can show that the universe does have a beginning. Time must have a starting point that must exist, start end and have faith beginning. Swinburne's thesis gives the choice of the universe to have a beginning and not or to be preceded by empty time.

Liberalisme sebagai Konfrontasi Ideologi Pembentuk Peradaban

By: Prafira Laili Zahra NB:  Apabila anda mengutip tulisan dari Blog ini, harap  mencantumkan link  yang akurat untuk menghindari pla...